Aku sebut dia “malaikat” tak bersayap kedua setelah mamah. Dia yang selalu khawatir kalau aku pulang terlalu larut, dia yang selalu tanya pulang jam berapa sama siapa, kalau pulang makanannya sudah dipisahin buat dede, dan masih banyak lagi hal yang dia lakukan. Dia yang saat ini bukan hanya sosok seorang kakak, tapi juga merangkap sebagai sosok pengganti mamah. Bawelnya, cerewetnya, khawatirnya, baiknya.

Terkadang akupun tak kuasa menahan tangis ketika mendapatkan pesan darinya, seputar pertanyaan pulang jam berapa atau pemberitahuan makanan disimpan dimana. Rasanya akupun rindu, rindu di khawatirkan dan diperhatikan mamah. 

Teruntuk teteh, terimakasih untuk kasih sayangnya, untuk semuanya yang sudah dilakukan yang tak akan pernah bisa aku membalasnya. Hanya terimakasih dan doa yang bisa aku ucapkan. Semoga aku bisa menjadi adik yang membanggakan. Maaf kalau akunya masih nakal, masih ngeyel dll. 

Sekarang dirumah hanya ada 2 perempuan, aku dan kamu. 

Apa mungkin kita bisa jatuh hati kepada seseorang yang belum lama kita kenal? entahlah aku sebut ini perasaan apa. Intinya kamu berhasil menembus pertahanannya aku, padahal aku bukanlah orang yang semudah itu untuk “jatuh hati” tapi kepadamu aku lain.

Kamu ramah, baik, dan sopan sejak pertama kita bertemu distatiun. Kamu yang selalu menanyakan aku sudah pergi ataupun pulang bekerja, sudah makan atau belum, kamu yang mengingatkan aku untuk selalu berdoa kepada Tuhan, padahal kita belum lama saling mengenal, kamu yang selalu perhatian ketika aku merasa sendirian.

Mah, apa kabar? Aku sangat merindukan mamah. Setiap hari, setiap malam menjelang tidur, rindu, sepi, selalu menghampiri. Rasanya begitu menyesakkan. Entah ini disebut mengeluh atau bukan? tapi yang jelas separuh jiwa akupun ikut hilang, seiring dengan pikiran yang terus melayang. Memutar semua memory yang telah terjadi ataupun yang belum sempat aku lakukan bersamamu. Mah, sampai saat ini ada begitu banyak hal yang selalu mengusik pikiranku, sering kali aku berantakan, pikiran dengan hatiku tidak sejalan, disaat seperti inilah rasanya aku ingin memelukmu untuk sekedar mendapatkan semangat yang telah hilang. Mah…. hari demi hari yang aku lalui tanpa hadirnya dirimu, ternyata malah semakin membuat aku merindukanmu. Sekarang ini aku sedang ada difase rindu -rindunya menghabiskan moment bersamamu, aku rindu membantumu memasak, rindu omelannya mamah, makanan kesukaan mamah, bahkan ketika aku menonton serial tv kesukaanmu pun tanpa terasa air mata ini tumpah.

Mamah tau hari ini hari sabtu, hari dimana aku libur bekerja, dan seharian berada dirumah. Semenjak saat itu entah mengapa sabtu minggu bukanlah hari yang aku nantikan untuk cepat datang. Malah sebaliknya, mungkin bisa dibilang inilah hari dimana aku merasa sepi. Karena sabtu minggu rumah benar-benar sepi, semua keponakan menginap dirumah neneknya. dan disaat-saat seperti inilah aku merasa sepi tanpa mamah, aku rindu berleha-leha bersamamu menonton sitkom kesukaan kita, lalu tertawa terbahak-bahak sampai perut sakit. 

Mah sebagian orang mungkin menilai aku cengeng, meye-meye, lebay atau apalah itu hak mereka. dan sebagian lagi ada yang menasehati, memberi semangat atau sebagai pelipur lara. Mungkin diantara mereka ada yang terlebih dahulu merasa kehilagan atau bisa jadi malah sebaliknya, mereka belum merasa kehilangan. Entahlah. Tapi yang jelas menurutku inilah rasa dari sebuah kehilangan. Rasa yang aku alami beberapa bulan terakhir, rasa yang selalu menyelinap tanpa permisi. Rasa yang cukup sulit untuk dijelaskan secara gamblang, karena nyatanya teori memang lebih mudah ketimbang praktek. Sama halnya seperti yang aku tulis malam ini, mungkin terlihat mudah, tetapi ketika aku dihadapkan dengan kenyataan yang sekarang terjadi, akupun pernah hampir menyerah mah. Karena aku akui kehilangan sosok ibu yang melahirkan,yang menjadi central disebuah keluarga, yang mengurus dari bayi hingga sebesar ini, dari kecil kita tinggal satu rumah, sampai akhirnya kita berpisah bukanlah perkara mudah mah. Jatuh bangun adalah sebuah perjalanan yang menemaniku saat ini. Tak jarang aku berada dipersimpangan jalan, bahkan akupun harus menepi terlebih dahulu untuk kemudian kembali berjalan kaki menyusun puzzel yang berantakan, agar kembali tersusun rapi.

Mah…. saat ini anakmu sedang berjuang untuk menggapai keinginannya, sedang berjuang untuk menutup sebuah ruang yang tersisa karena sebuah kehilangan, dan sedang berusaha menebarkan kebahagiaan untuk orang sekitar. 

Mah maaf untuk semua kesalahan, maaf untuk emosi yang selalu berantakan, maaf juga masih banyak hal yang belum bisa aku lakukan dan aku berikan untuk mamah.Terima kasih untuk semua kebaikan, serta kasih sayang yang tak pernah usai, sampai bertemu dikeabadian. 

-Salam sayang, salam rindu. dari sibungsumu –