Kamu… cinta, kesedihan dan kebahagiaan.

Cinta, satu kata dengan berjuta kisah di dalamnya. Berlebihan? aku rasa tidak. Karena memang begitulah adanya. Cinta bisa menghinggapi hati siapa saja, seluruh manusia di belahan bumi manapun. Tak terkecuali aku.

Kita tidak bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta, sama seperti aku yang telah jatuh cinta dalam semua pesonamu. Bahkan ketika seseorang menanyakan mengapa aku bisa jatuh cinta kepada mu??? Aku hanya tersenyum. Mengapa??? karena aku jatuh cinta kepada mu begitu saja tanpa diduga, tanpa rekayasa, dan tanpa alasan.

Aku pernah membaca sebuah postingan yang seperti ini “menurut psikologi naksir seseorang hanya berlangsung sampai 4 bulan, jika waktu lebih dari itu, Maka anda benar-benar mencintainya”

Dan ini benar terjadi kepada aku. Awalnya rasa itu hanyalah rasa kagum semata, tapi seiring dengan berjalannya waktu rasa itu berubah menjadi rasa cinta dan rasa sayang yang  teramat dalam. Perasaan itu terus tumbuh tanpa bisa aku cegah sampai pada akhirnya aku pun terluka karenanya.

“Kenapa aku harus jatuh cinta? Kenapa ketika jatuh cinta, bukan bahagia yang memenuhi hati ini, tapi malah rasa sakit yang tak terperi? Kenapa Tuhan memberikan rasa cinta lantas Ia menghadapkan aku pada kenyataan bahwa cinta itu tak bisa aku miliki?”

“Kenapa Tuhan mengambil orang-orang yang sangat aku cintai? Kenapa tak bisa menunggu sedikit saja, sebentar saja, hingga apa yang aku impikan dan harapkan bisa menjadi kenyataan?”

 “Apakah ada cinta yang tulus untuk ku? apakah cinta sejati itu ada? dan apa arti cinta sejati itu?”

 cinta sejati adalah cinta yang bisa melepaskan, merelakan, mengikhlaskan yang dicintai pergi. Jika sudah berusaha, jika sudah menempuh jalan yang benar, berharap dan berdoa pada Allah dalam setiap sujud di tengah malam, lantas jawaban yang didapatkan tak seperti yang diharapkan, tak ada yang bisa aku lakukan selain mengikhlaskannya. Marah-marah? Merajuk? Mendendam? Itu jelas bukan pilihan yang baik. Mengejar-ngejar terus sampai tak mempedulikan batasan norma kesopanan dan agama? Itu juga jelas bukan jawabannya. Maka mengikhlaskan, melepaskannya pergi, membiarkannya terbang bebas, hanya itulah yang bisa aku lakukan.

Setiap orang pasti pernah merasakan perihnya mengikhlaskan dan melepaskan seseorang yang dicintainya pergi begitu saja. Dan itulah yang kini sedang aku rasakan. Bohong ketika aku bilang aku baik-baik saja, kenyataannya malah sebaliknya. Aku terluka, sakit, sedih, kecewa, marah, semua menyatu menjadi satu.

Berulang kali aku sering kali goyah karena ini, karena kenyataan yang aku tau kalau dia sudah memiliki seseorang.  Bukan kenyaataan mudah yang bisa aku terima begitu saja, jujur aku rapuh ketika aku mengetahui semuanya, bahkan aku tidak bisa mengendalikan perasaan aku sendiri  dan yang bisa aku lakukan adalah Menangis, hingga mata bengkak, hingga semua tenaga habis, hingga merasa pusing karena terlalu lama menangis, hingga air mata mengering dengan sendirinya, hingga aku lelah dan terlelap dalam tangisku.

Itulah yang bisa aku lakukan dimalam itu. Malam yang tidak pernah aku banyangkan sebelumnya, malam dimana aku benar-benar merasa jatuh, rapuh dan terluka karena dia. Tak ada yang melarang aku untuk menangis sebab menangis adalah persentase dari sebuah perasaan. Bersedihlah,  Allah tak pernah membenci orang yang bersedih.  Tapi sekali lagi, seorang teman mengatakan “Jangan berlebihan. Jangan merusak diri sendiri, harus sayang sama hati dan diri sendiri, menangislah sepuas mu malam ini. Tapi esok pagi kamu harus kembali tersenyum bahagia dan melanjutkan kehidupan dengan penuh rasa ikhlas. Lepaskan semua kesedihanmu lepaskan dan ikhlaskan dia, semakin kamu berusaha untuk menjauh itu justru semakin membuat kamu tersiksa. Beda halnya jika kamu ikhlas, sabar, tenang dan menjaga hati kamu. Coba untuk berpikir jernih dan melihat realita yang sebenarnya ”.

Sekarang, aku kembali bangkit untuk berdiri mencoba melihat realita yang sebenarnya, ini lah yang disebut “ the power of ikhlas” aku dapat tersenyum kembali, setelah aku menangis dengan begitu tersedu. Mencoba untuk memulai semuanya dari awal tanpa melupakan semua kenangan yang telah terukir, mencoba untuk tetap berhubungan dengan dia tanpa melibatkan perasaan begitu dalam.

Sebab mau jadi apapun dia dalam hidup aku, entah itu teman, pacar, sahabat, kakak, adik, saudara, bahkan musuh sekalipun. Dia sudah punya posisi sendiri dihati ini sudah punya cerita sendiri dihidupku, menyatu tak harus dalam satu ikatan, cukup batin yang terekat kuat. Aku percaya “Kamu untuk ku” sebagai apapun itu. Meskipun aku tidak pernah mengetahui sebagai apa posisi aku dihati kamu??? Apa kamu mempunyai perasaan yang sama seperti aku??? walaupun hanya sedikit.

Aku tau selama ini kamu mengetahui semuanya, termasuk perasaan aku. Tapi kamu dan aku memilih untuk diam. Diam dalam perasaan masing-masing yang sulit untuk ditebak kebenarannya.

Mengapa aku memilih diam??? Aku Cuma takut dan terlalu takut untuk terluka, tapi kenyaataannya Aku diam seperti ini pun tetap merasakan “terluka” apalagi ketika aku mengutarakan semuanya semua perasaan yang aku punya untuk kamu, mungkin aku akan jauh lebih terluka dari ini. Entahlah….. tapi selama ini aku mengungkapkan dan mencurahkan semuanya melalui tulisan yang aku buat untuk kamu.

Kenangan, kejadian 4 bulan yang lalu masih teringat dan tersimpan rapih dalam catatan ku, dan suatu saat nanti ketika kamu “kembali lagi untuk aku” aku akan membiarkan kamu untuk membaca semua catatan yang sudah aku tulis untuk kamu.

Tak ada yang pernah tau skenario Allah. Allah selalu punya kejutan yang kadang tak pernah kita sangka-sangka. Kamu adalah salah satunya, kamu adalah kejutan yang Allah kasih dan hadir dalam hidup aku. Semoga dengan melihat usaha aku untuk ikhlas menerima takdir yang telah digariskan, Allah telah  menyimpan sesuatu yang sangat indah untuk ku.

Semua kisah yang ada didalam buku, didongeng-dongeng, didalam sebuah film itu semua ada penulisnya. Begitu pun dengan kisah yang aku alami saat ini, siapa penulisnya??? Allah adalah penulis dan pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Aku percaya kisah aku pastilah kisah yang terbaik yang dituliskan-Nya.

“Lepaskanlah. Maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu.”

Biarkanlah waktu mengobati seluruh kesedihan yang aku rasakan, ketika aku tidak tau harus melakukan apa lagi, ketika aku merasa semua sudah hilang, musnah, habis sudah, maka itulah saatnya untuk membiarkan waktu menjadi obat terbaik. Hari demi hari akan menghapus selembar demi selembar kesedihan. Minggu demi minggu akan melepas sepapan demi sepapan kegelisahan, bulan, tahun, maka rontok sudahlah bangunan kesedihan di dalam hati. Biarkanlah waktu mengobatinya, maka semoga aku mulai lapang hati menerimanya. Sambil terus mengisi hari-hari dengan baik dan positif.

 “Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka teruslah memperbaiki diri sendiri, sibukkan dengan belajar. Sekali aku bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apa pun wujud kehilangan, aku akan siap menghadapinya. Jika pun pada akhirnya aku tidak memiliki  dia, besok lusa aku akan memperoleh pengganti yang lebih baik.”

 Bogor, 10 Juni 2015

 

Iklan